Dalam sumber buku kronik kerajaan Liang [10]dan kerajaan Sui [11] di Tiongkok pernah disebutkan sekitar tahun 506 sampai 581 Masehi terdapat kerajaan Poli yang wilayah kekuasaannya meliputi Aceh Besar [12][13]sedangkan dalam Nāgarakṛtāgama di sebut sebagai Kerajaan Lamuri [14]
yang dalam sumber sejarah Arab disebut dengan Lamkrek, Lam Urik, Rami,
Ramni sedangkan dan dalam sumber sejarah Tiongkok lainnya disebut pula
dengan nama Lan Li, Lan-wuli atau Lan Wo Li dengan pelabuhan laut
bernama Ilamuridesam sebagaimana juga pernah disingahi dan ditulis oleh Marco Polo (1292) asal Venesia dalam buku perjalanan pulang dari Tiongkok menuju ke Persia (Iran)[15][16] saat itu masih berada dibawah pengaruh kedaulatan kerajaan Sriwijaya dibawah wangsa (dinasti) Syailendra dengan raja pertamanya Balaputera Dewa,
yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan yang kuat dan daerah
kekuasaannya meluas, meliputi Tulang Bawang, Pulau Bangka, Jambi,
Genting Kra dan pulau Jawa yang kemudian membangun Borobudur.[17]
Ketika kerajaan Sriwijaya sedang mencapai puncak kejayaannya dan
kemakmurannya yang memainkan peran penentu dengan menetapkan pola
perdagangan terdiri atas tiga lapisan yakni pelabuhan dan pergudangan
utama pada Palembang sedangkan pelabuhan dan pergudangan sub-regional seperti Ilamuridesam (Lamuri), Takuapa (Kedah), Jambi dan Lampung selanjutnya diikuti Sungsang serta beberapa pelabuhah kecil lainnya menggunakan alur sungai Musi dimana dalam hegemoni alur perdagangan ini kerajaan mendapatkan upeti berkemakmuran ternyata mengundang kedatangnya ekspedisi armada dari raja Rajendra Chola dari Chola India selatan pada tahun 1025 dengan melakukan serangan kepada seluruh pelabuhan-pelabuhan di Sriwijaya termasuk Ilamuridesam (Lamuri) dan Takuapa (Kedah) yang dihancurkan menjadi sunyi seperti yang diriwayatkan dalam prasasti Tanjore 1030
di India yang mengatakan bahwa dalam mengirimkan sejumlah kapal yang
sangat besar ke tengah-tengah laut lepas yang bergelombang sekaligus
menghancurkan armada gajahnya yang besar dari kerajaan melayu Sriwijaya
dan merampas harta benda yang sangat banyak berikut pintu gerbang ratna
mutu manikam terhias sangat permai, pintu gerbang batu-batu besar
permata dan akhirnya Raja Sriwijaya yang bernama Sanggrama Wijayatunggawarman dapat ditawan kemudian dilepas setelah mengaku takluk,[18] tak lama kemudian armada Chola
kembali kenegerinya sedangkan sejumlah lainnya menetap dan menjadi
bagian dari penduduk, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa
penyerangan tersebut lebih ditujukan untuk mengamankan atau pengambil
alihan jalur perdagangan pada selat Malaka yang pada waktu itu sudah
merupakan jalur perdagangan internasional yang penting daripada
melakukan sebuah pendudukan dikala kekuatan militer dan diplomasi
Sriwijaya sedang melemah[19] karena lebih tertuju pada perkembangan perdagangan.[20]
sejak kekalahan ini kewibawaan kerajaan Sriwijaya mulai menurun dengan
dratis yang memberikan peluang bagi kerajaan-kerajaan yang dahulu berada
dibawah kedaulatan Sriwijaya mulai memperbesar dan memperoleh kembali
kedaulatan penuh. Walaupun demikian keberadaan Sriwijaya baru berakhir
pada tahun 1377.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar